Kebangkitan Kemandirian Pertahanan Asia

20 January 2026

Kebangkitan Kemandirian Pertahanan Asia
Taring Baru di Geopolitik Global

Dalam beberapa tahun terakhir, Asia mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam peta industri pertahanan global. Kawasan ini tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi produk militer dari Eropa dan Amerika Serikat. Sejumlah negara Asia kini mampu mengembangkan dan memproduksi alutsista sendiri, bahkan menawarkannya ke pasar internasional. Perkembangan ini secara perlahan membentuk taring baru dalam dinamika geopolitik global.

Turki menjadi salah satu contoh yang paling sering disorot. Menurut laporan berbagai media internasional, industri pertahanan Turki mengalami lonjakan signifikan, terutama melalui pengembangan drone tempur. Bayraktar TB2, misalnya, dikenal luas karena telah digunakan dalam beberapa konflik dan dinilai mampu beroperasi secara efektif dalam kondisi nyata. Keberhasilan ini mendorong peningkatan permintaan ekspor dan memperkuat posisi Turki sebagai pemain pertahanan yang semakin diperhitungkan.

Asia Timur juga menunjukkan tren serupa. Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir aktif membangun reputasi sebagai produsen sistem pertahanan yang andal. Menurut laporan CNN, pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae menjadi salah satu simbol ambisi Korea Selatan untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Program ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor dan kerja sama dengan negara lain.

Selain pesawat tempur, produk artileri Korea Selatan seperti howitzer K9 Thunder juga banyak diminati. Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa sistem ini dipilih oleh berbagai negara karena menawarkan keseimbangan antara performa, biaya, dan dukungan jangka panjang. Pendekatan ini membuat Korea Selatan dipandang sebagai alternatif yang kredibel dibandingkan pemasok tradisional dari Barat.

China menempati posisi yang berbeda namun tidak kalah penting. Berdasarkan Lowy Institute Asia Power Index 2024 Edition, China telah tumbuh menjadi sebuah negara superpower yang kuat karena kemampuan militernya. Indikator kapabilitas militer China mendapat skor 69,7 karena kemampuan pengembangan militernya sangat strategis, salah satunya adalah proses pengembangan kapal induk (2012-2024) dan hanya setingkat dibawah militer AS yang ada di peringkat pertama.

Terlebih, menurut data dari lembaga riset internasional seperti Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), China termasuk dalam jajaran eksportir senjata terbesar di dunia. Produk-produk seperti drone, sistem pertahanan udara, hingga kapal perang buatan China telah digunakan oleh puluhan negara, terutama di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Meski kualitasnya kerap dibandingkan dengan produk Eropa atau Amerika, harga yang kompetitif dan ketersediaan produksi menjadi daya tarik utama.

Yang menarik, kebangkitan industri pertahanan Asia tidak hanya soal kemampuan memproduksi senjata, tetapi juga pendekatan kerja sama yang ditawarkan. Menurut berbagai laporan media pertahanan, banyak produsen Asia bersedia memberikan skema alih teknologi, perakitan lokal, atau pengembangan bersama. Bagi negara pembeli, hal ini memberikan nilai strategis karena memungkinkan peningkatan kapasitas dan pemahaman teknis militer secara bertahap.

Meski demikian, kemandirian pertahanan Asia tetap memiliki tantangan. Tidak semua sistem yang diproduksi telah teruji di berbagai kondisi tempur, dan isu pemeliharaan serta keberlanjutan jangka panjang masih menjadi perhatian. Selain itu, penggunaan alutsista dalam konflik juga membawa implikasi politik dan reputasi yang tidak selalu sederhana.

Dalam konteks kawasan, perkembangan ini memberi pelajaran penting bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Kemandirian pertahanan tidak dibangun secara instan, melainkan melalui konsistensi kebijakan, penguatan teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia. Perisai Trisula Nusantara hadir sebagai kerangka yang menempatkan integrasi lintas matra dan kesiapan jangka panjang sebagai fondasi pertahanan nasional, sejalan dengan dinamika pertahanan modern di Asia.

Penguatan ekosistem pertahanan nasional melalui kerangka tersebut menjadi penting agar Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan geopolitik kawasan. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, dibutuhkan untuk mendorong sistem pertahanan yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan.

***

Get in Touch

Let’s talk defence, development, and how we can move forward together. REPUBLIKORP welcomes collaboration, inquiry, and conversations rooted in clarity and commitment.